Tampilkan postingan dengan label Rehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rehat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Agustus 2014
Jumat, 15 Agustus 2014
Sayang untuk Dibuang...
Sabtu, 05 Juli 2014
Jam Kantong Ide dari Tukang Kunci
Jam Kantong Ide dari Tukan Kunci
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kemampuan manusia, piranti penunjuk waktu selalu berkembang. Konon seorang tukang kunci dari Nurnberg, Jerman, Petrus Henlein memiliki ide brilian dengan karyanya membuat arloji saku pertama kali, yakni pada 1524.
Arloji saku sederhana ciptaan Henlein kemudian disempurnakan oleh Jawal al-Din sekitar 1556-an. Kemudian, disempurnakan lagi oleh Mansyur Sheyh Dede pada 1702. Semakin lama, tingkat akurasi arloji tersebut semakin tinggi.
Kebutuhan orang terhadap jam semakin meningkat, permintaan pun terus bertambah. Di berbagai tempat mulai muncul bengkel-bengkel pembuat jam, seperti halnya di Paris yang dibangun Louis Breguet pada 1775.
Sebelumnya, bahkan sebelum tahun 1600, masalah utama jam portable adalah kemampuan daya untuk bertahan. Kala itu, penunjuk waktu (jam) masih sangat berat sehingga tidak praktis bagi aktivitas manusia yang padat. Tak mungkin ke kebun, ke pasar, bahkan mengajar di sekolah- sekolah haus membawa jam yang berat itu.
Seiring perkembangannya, jam portabel pun didesain terbuat dari baja dan kuningan. Tetapi jam portable sebagai penunjuk waktu belum memenuhi syarat keakuratan. Hingga akhir periode ini, astronomi data dan tanggal telah ditampilkan di jam portabel.
Pada tahun 1600-an jam portabel yang awalnya hanya digunakan sebagai penunjuk waktu berkembang menjadi perhiasan. Ketika itu, jam portabel terbuat dari uang logam, logam berharga, ataupun bahan perhiasan lainnya. Dengan demikian jam portabel pun dipandang sebagai bagian dari perhiasan.
Tahun 1700 hingga 1800 merupakan masa dimana jam portable yang di simpan di saku berkembang fungsinya menjadi arloji yang bisa digunakan di pergelangan tangan. Hal ini tentu memudahkan bagi para pengguna penunjuk waktu itu. Meskipun pada awalnya sulit untuk menyesuaikan desain arloji dengan anatomi tangan serta pengaruh kegiatan tangan dengan sistem keakuratan waktu, namun seiring perkembangan zaman semua teratasi.(*)
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kemampuan manusia, piranti penunjuk waktu selalu berkembang. Konon seorang tukang kunci dari Nurnberg, Jerman, Petrus Henlein memiliki ide brilian dengan karyanya membuat arloji saku pertama kali, yakni pada 1524.
Arloji saku sederhana ciptaan Henlein kemudian disempurnakan oleh Jawal al-Din sekitar 1556-an. Kemudian, disempurnakan lagi oleh Mansyur Sheyh Dede pada 1702. Semakin lama, tingkat akurasi arloji tersebut semakin tinggi.
Kebutuhan orang terhadap jam semakin meningkat, permintaan pun terus bertambah. Di berbagai tempat mulai muncul bengkel-bengkel pembuat jam, seperti halnya di Paris yang dibangun Louis Breguet pada 1775.
Sebelumnya, bahkan sebelum tahun 1600, masalah utama jam portable adalah kemampuan daya untuk bertahan. Kala itu, penunjuk waktu (jam) masih sangat berat sehingga tidak praktis bagi aktivitas manusia yang padat. Tak mungkin ke kebun, ke pasar, bahkan mengajar di sekolah- sekolah haus membawa jam yang berat itu.
Seiring perkembangannya, jam portabel pun didesain terbuat dari baja dan kuningan. Tetapi jam portable sebagai penunjuk waktu belum memenuhi syarat keakuratan. Hingga akhir periode ini, astronomi data dan tanggal telah ditampilkan di jam portabel.
Pada tahun 1600-an jam portabel yang awalnya hanya digunakan sebagai penunjuk waktu berkembang menjadi perhiasan. Ketika itu, jam portabel terbuat dari uang logam, logam berharga, ataupun bahan perhiasan lainnya. Dengan demikian jam portabel pun dipandang sebagai bagian dari perhiasan.
Tahun 1700 hingga 1800 merupakan masa dimana jam portable yang di simpan di saku berkembang fungsinya menjadi arloji yang bisa digunakan di pergelangan tangan. Hal ini tentu memudahkan bagi para pengguna penunjuk waktu itu. Meskipun pada awalnya sulit untuk menyesuaikan desain arloji dengan anatomi tangan serta pengaruh kegiatan tangan dengan sistem keakuratan waktu, namun seiring perkembangan zaman semua teratasi.(*)
Jumat, 04 Juli 2014
Jam Pasirku yang "modern"
Jam pasirku yang Modern
Pada 1.300 SM, Ctesibus dari Alexsandria membuat jam dengan menggunakan instrumen pasir. Pasir yang diisi di dalam tabung itu jatuh ke bawah melewati bagian tabung yang sempit untuk menunjukan waktu tertentu. Lalu, tabung itu dibalik 180 derajat untuk mengulangi pengukuran waktu.
Jam Pasir atau Hourglass terdiri dari dua kaca gembung yg diisi pasir halus [satu diatas satu dibawah] dan dihubungkan oeh pipa sempit. Rata2 menunjukan waktu selama satu jam. Faktor yg berpegaruh dalam penunjukan waktu adalah, volume tabung, jenis kualitas pasir dan lebar leher.
Menurut sejumlah ahli, jam pasir diciptakan Alexandria sekitar pertengahan abad ketiga, meski ada juga yang bilang jam pasir mulai dijadikan piranti mlau adab 11. Bisa jadi pada masa itu, orang-orang pun sudah membawa jam pasir ke mana-mana, seperti yang kita lakukan dengan jam tangan sekarang ini.
Peradaban pun berkembang, dimana jam pasir--yang mungkin masih kurang praktis itu, ditambahkan juga kompas untuk menunjukkan arah.
Kini jam pasir tinggal cerita, menjadi penggalan dari kisah kelahiran jam-jam yang serba canggih saat ini. Beberapa tiruan pun masih bisa ditemukan, meski bahannya sudah dari bahan yang "modern" saat ini.
Pada 1.300 SM, Ctesibus dari Alexsandria membuat jam dengan menggunakan instrumen pasir. Pasir yang diisi di dalam tabung itu jatuh ke bawah melewati bagian tabung yang sempit untuk menunjukan waktu tertentu. Lalu, tabung itu dibalik 180 derajat untuk mengulangi pengukuran waktu.
Jam Pasir atau Hourglass terdiri dari dua kaca gembung yg diisi pasir halus [satu diatas satu dibawah] dan dihubungkan oeh pipa sempit. Rata2 menunjukan waktu selama satu jam. Faktor yg berpegaruh dalam penunjukan waktu adalah, volume tabung, jenis kualitas pasir dan lebar leher.
Menurut sejumlah ahli, jam pasir diciptakan Alexandria sekitar pertengahan abad ketiga, meski ada juga yang bilang jam pasir mulai dijadikan piranti mlau adab 11. Bisa jadi pada masa itu, orang-orang pun sudah membawa jam pasir ke mana-mana, seperti yang kita lakukan dengan jam tangan sekarang ini.
Peradaban pun berkembang, dimana jam pasir--yang mungkin masih kurang praktis itu, ditambahkan juga kompas untuk menunjukkan arah.
Kini jam pasir tinggal cerita, menjadi penggalan dari kisah kelahiran jam-jam yang serba canggih saat ini. Beberapa tiruan pun masih bisa ditemukan, meski bahannya sudah dari bahan yang "modern" saat ini.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
.jpg)


